Langit senja hari ini begitu muram, seperti hati yang sedang mencari. Aku teringat lagi kisah tentangnya. Anafiel. Nama itu bagai melodi air yang mengalir di relung sanubari. Kisah tentangnya, Malaikat yang unik, terpatri dalam ingatan seperti jejak embun di daun pagi. Ia bukan malaikat yang gagah dengan sayap keemasan, melainkan roh air yang lembut dan menenangkan. Sebelum mengemban tugas sebagai salah satu dari delapan malaikat agung Merkabah , ia pernah menyandang jabatan penting sebagai Metatron . Jabatan yang begitu suci, yang hanya dimiliki oleh mereka yang terpilih. Sebelum Samael dan Chronos, Anafiel-lah yang memegang gelar itu. Ia adalah malaikat yang menghukum Samael di kedalaman Dimensi Abyss Pluto , sebuah tempat yang gelap dan dingin. Anafiel, sang malaikat yang tangannya tak ragu menegakkan kebenaran. Namun, di balik kegagahannya, ia adalah seorang mentor yang bijaksana. Sebelum Idris/Enoch diangkat menjadi Metatron berikutnya, Anafiel-lah yang dengan sabar mengajar...
Hari ini, kembali kutemukan diriku tersesat dalam labirin pikiran. Rasa cemas seperti kabut tebal yang menyelimuti, membuat langkahku terasa berat. Di balik hiruk pikuk kota, aku merasa terpecah-belah, jauh dari diriku yang sejati. Aku tahu, di dalam keheningan ini, aku harus mencari jalan pulang. Jalan menuju Jiwa dan kembali terhubung dengan Rohku . Di tengah kegelapan itu, sebuah nama membisik, Mikhael . Aku pernah membaca tentangnya, tentang makna yang begitu agung: "Tak ada yang seperti Tuhan." Hanya Dia yang Esa. Nama itu bukan sekadar rangkaian aksara, melainkan sebuah mantra . Dan dalam kesunyian ini, aku memutuskan untuk mencobanya. Aku menarik napas dalam, memejamkan mata, dan mengucapkannya perlahan: "Mi." Seketika, kurasakan ada yang terbuka di puncak kepalaku. Seperti kelopak bunga yang merekah, frekuensi energi turun dari atas, memasuki tubuhku. Lalu, aku melanjutkan: "Kha." Getarannya menyebar ke dada, menghangatkan area di sekitar kelenj...