Di dalam setiap kekuasaan, ada gravitasi yang tak pernah lelah bekerja. Ia menarik dua kutub, (T) dan (BG), hingga garis nasib mereka bertemu. Dulunya, mereka adalah satu frekuensi, bernaung dibawah payung Partai Coklat. Kini, resonansi itu pecah, menciptakan riak yang membelah air, memisahkan pengikut menjadi dua kubu. Perpecahan itu bagai retakan halus pada kaca yang tak kasat mata, sampai tiba saatnya (T) diangkat menjadi Ketua Partai Coklat, tidak lama setelah (BG) menduduki kursi Kepala Intelejen. Dua bidak utama telah diletakan, di atas papan catur yang sama, namun dengan misi yang berbeda.
Guncangan itu menjalar hingga ke ranah eksekutif, dimana (T) mengambil alih kursi Menteri Dalam Negeri, dan (BG) menjadi Menteri Politik Keamanan. Dua kutub yang bersebrangan, kini berhadapan langsung di ruang yang sama, saling memancarkan energi yang tidak bisa dipadukan. di tengah ketegangan itu, estafet kepemimpinan di Partai Coklat dilanjutkan oleh (LS) yang masih berasal dari kubu dan faksi yang sama dengan (T).
Namun memasuki era Presiden ke-8, Komite Reformasi Partai Coklat muncul, sebuah gerakan senyap dari Sang Presiden, berusaha melucuti kekuatan Faksi Banteng Hitam dan Faksi House of Rose, satu persatu. Ini bukan sekedar politik, ini tentang gravitasi kekuasaan yang selalu punya cara untuk memisahkan apa yang pernah bersatu. Karena dalam politik sejatinya tidak pernah ada kawan atau lawan yang abadi, yang abadi hanya kepentingan.
Ken menceritakan ini pada Sabtu, 20 September 2025

Komentar
Posting Komentar