Langit senja hari ini begitu muram, seperti hati yang sedang mencari. Aku teringat lagi kisah tentangnya. Anafiel. Nama itu bagai melodi air yang mengalir di relung sanubari. Kisah tentangnya, Malaikat yang unik, terpatri dalam ingatan seperti jejak embun di daun pagi.
Ia bukan malaikat yang gagah dengan sayap keemasan, melainkan roh air yang lembut dan menenangkan. Sebelum mengemban tugas sebagai salah satu dari delapan malaikat agung Merkabah, ia pernah menyandang jabatan penting sebagai Metatron. Jabatan yang begitu suci, yang hanya dimiliki oleh mereka yang terpilih.
Sebelum Samael dan Chronos, Anafiel-lah yang memegang gelar itu. Ia adalah malaikat yang menghukum Samael di kedalaman Dimensi Abyss Pluto, sebuah tempat yang gelap dan dingin. Anafiel, sang malaikat yang tangannya tak ragu menegakkan kebenaran.
Namun, di balik kegagahannya, ia adalah seorang mentor yang bijaksana. Sebelum Idris/Enoch diangkat menjadi Metatron berikutnya, Anafiel-lah yang dengan sabar mengajarkan seluk-beluk tugas tersebut. Ia membimbing Idris, menunjukkan jalan yang harus ia tempuh, dan mempersiapkannya untuk sebuah tugas yang begitu besar.
Mereka memanggilnya "Perpanjangan Tangan Tuhan". Julukan itu bagai cermin yang merefleksikan kebaikan dan kebijaksanaan yang tak terhingga. Tangannya adalah perpanjangan dari kasih, keadilan, dan hikmat-Nya.
Kadang, aku bertanya-tanya. Di mana dia sekarang? Apakah ia masih menjadi roh air yang menenangkan, atau telah berubah menjadi cahaya yang tak terjangkau? Yang pasti, kisahnya akan selalu menjadi pengingat bagiku, bahwa keindahan yang sejati tak hanya berdiam di permukaan, melainkan di kedalaman hati yang penuh hikmah dan ketulusan.
Menuliskannya pada 23 September 2025.
Shannon.
.png)
Komentar
Posting Komentar